Talawi Hilie, 07 September 2026 — Pemerintah Desa Talawi Hilie kembali ambil bagian dalam SISSCA 2026, ajang karnaval kreatif yang mengangkat Songket Silungkang sebagai bagian dari kekayaan budaya Sawahlunto. Pada gelaran tahun ini, Talawi Hilie membawa tema “Kabau Padati”, mengangkat gambaran kehidupan masyarakat pertanian masa lalu yang menggunakan kerbau sebagai sarana mengangkut hasil pertanian.
Keikutsertaan Talawi Hilie berlangsung pada rangkaian kegiatan SISSCA, Sabtu (5/9/2026). Tim Talawi Hilie terlebih dahulu mengikuti kegiatan photoshoot pada Sabtu siang, sebelum tampil dalam karnaval pada malam harinya.
SISSCA 2026 sendiri merupakan salah satu agenda budaya dan pariwisata Kota Sawahlunto yang menampilkan kreativitas peserta melalui kostum berbasis Songket Silungkang. Tahun ini, SISSCA berlangsung pada 4–6 September 2026 dan diikuti peserta dari sejumlah kategori, termasuk desa dan kelurahan se-Kota Sawahlunto.
Dalam karnaval, tim Talawi Hilie tampil dengan lima orang, terdiri dari satu peserta utama dan empat orang pengikut. Peserta utama mengenakan kostum dengan ornamen berbentuk kepala kerbau serta membawa bentuk menyerupai atap padati atau gerobak tunggangan.
Sementara itu, salah seorang pengikut membawa atribut yang menyimbolkan padati atau gerobak tunggangannya, sedangkan tiga pengikut lainnya tampil sebagai representasi petani.
Konsep tersebut tidak berhenti pada bentuk kostum. Tim Talawi Hilie juga menghadirkan teatrikal yang menggambarkan aktivitas masyarakat pertanian, mulai dari memanen padi hingga mengangkut hasil pertanian menggunakan kabau padati.
Konsep Kabau Padati dipilih untuk merepresentasikan kehidupan masyarakat Talawi Hilie pada masa lalu. Kerbau padati menjadi salah satu sarana yang digunakan masyarakat dalam membawa hasil pertanian. Pada sisi lain, konsep tersebut juga menggambarkan karakter Talawi Hilie sebagai wilayah pertanian yang dalam pengolahan lahan persawahan juga memanfaatkan tenaga kerbau.
Yang membuat penampilan tersebut semakin kuat adalah penggunaan Songket Silungkang yang dikreasikan ke dalam kostum. Songket tidak hanya ditempatkan sebagai atribut pelengkap, tetapi digunakan pada hampir seluruh bagian kostum sehingga menjadi elemen utama dalam membangun karakter visual Kabau Padati.
Kostum tersebut dirancang oleh Agus Harizal, Perangkat Desa Talawi Hilie yang juga memiliki latar sebagai desainer. Proses persiapannya dilakukan selama lebih dari satu bulan melalui tim Agus Creative Talawi.
Penampilan Talawi Hilie kemudian dibawa menyusuri rute karnaval yang dimulai dari Simpang Lapangan Segitiga atau depan Gedung Pusat Kebudayaan, bergerak menuju kawasan Pasar Sawahlunto dan berakhir di depan Lapangan Bola Kaki Sawahlunto. Sementara panggung utama berada di kawasan Terminal Kota Sawahlunto.
Meski tahun ini Talawi Hilie belum masuk dalam daftar pemenang, penampilan yang menggabungkan kostum dan teatrikal tersebut tetap mendapat perhatian penonton. Adegan kehidupan petani yang memanen padi kemudian mengangkut hasil panen menggunakan kabau padati menjadi bagian yang menonjol dari penampilan.
Kepala Desa Talawi Hilie Pausil Misbah menyampaikan apresiasi terhadap penampilan tim Talawi Hilie. Bagi Pemerintah Desa, keikutsertaan dalam SISSCA merupakan bagian dari upaya untuk terus mendukung dan menyukseskan agenda budaya Kota Sawahlunto.
Talawi Hilie sendiri berupaya untuk terus ambil bagian dalam SISSCA setiap tahunnya. Keikutsertaan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi desa untuk menghadirkan kreativitas dengan membawa identitas dan cerita yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Talawi Hilie.
Melalui tema Kabau Padati, Talawi Hilie tidak hanya hadir membawa kostum berbahan Songket Silungkang, tetapi juga membawa kembali cerita tentang kehidupan petani, tradisi pertanian, serta cara masyarakat masa lalu memanfaatkan kerbau dalam aktivitas sehari-hari ke tengah panggung budaya SISSCA 2026.

























Tinggalkan Balasan